Kajian Bidang Filsafat
Kajian Bidang-bidang Filsafat
7.1
Ontologi
1. Pengertian ontologi
Ontologi memiliki pengertian yang
berbeda-beda, definisi ontologi berdasarkan bahasa berasal dari bahasa Yunani,
yaitu On (Ontos) merupakan ada dan logos merupakan ilmu
sehingga ontologi merupakan ilmu yang mengenai yang ada. Ontologi menurut
istilah merupakan ilmu yang membahas hakikat yang ada, yang merupakan ultimate
reality, baik berbentuk jasmani/konkret maupun rohani abstrak (Bakhtiar
2004). Ontologi dalam definisi Aristoteles merupakan pembahasan mengenai hal
ada sebagai hal ada (hal ada sebagai demikian) mengalami perubahan yang dalam,
sehubungan dengan objeknya (Gie 1997).
Ontologi
dalam pandangan The Liang Gie merupakan bagian dari filsafat dasar yang
mengungkapkan makna dari sebuah eksistensi yang pembahasannya meliputi
persoalan-persoalan (Gie 1997):
a.
Apakah
artinya ada, hal ada?
b.
Apakah
golongan-golongan dari hal ada?
c.
Apakah
sifat dasar kenyataan dan hal ada?
d.
Apakah cara-cara yang berbeda dalam mana entilas dari
kategori-kategori logis yang berlainan (misalnya objek-objek fisis, pengertian
universal, abstraksi, dan bilangan) dapat dikatakan ada?
Ontologi
menurut Suriasumantri (1990) membahas mengenai apa yang ingin kita ketahui,
seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan kata lain suatu pengkajian mengenai
teori tentang “ada”. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan:
a.
Apakah
objek ilmu yang akan ditelaah?
b.
Bagaimana
wujud yang hakiki dari objek tersebut?
c.
Bagaimana hubungan antara objek dan daya tangkap manusia
(seperti berpikir, merasa, dan mengindra) yang dapat menghasilkan pengetahuan?
Ontologi
dalam Ensiklopedia Britannica yang diangkat dari konsepsi Aristoteles merupakan
teori atau studi tentang wujud, misalnya karakteristik dasar dari seluruh
realitas. Pembahasan tentang ontologi sebagi dasar ilmu berusaha untuk menjawab
“apa” yang menurut Aristoteles merupakan The First Philosophy dan
merupakan ilmu mengenai esensi benda (Romdon 1996). Ontologi memiliki
arti sama dengan metafisika yang merupakan studi filosofi untuk menentukan
sifat nyata yang asli (real nature) dari suatu benda untuk menentukan
arti, struktur, dan prinsip benda tersebut (filosofi ini didefinisikan oleh
Aristoteles abad ke-4 SM) (Ensiklopedia Bratannica dalam Wikipedia).
Ontologi
dalam filsafat ilmu merupakan studi atau pengkajian mengenai sifat dasar ilmu
yang memiliki arti, struktur, dan prinsip ilmu. Ontologi filsafat sebagai
cabang filsafat adalah ilmu apa, dari jenis dan struktur dari objek, properti,
peristiwa, proses, serta hubungan dalam setiap bidang realitas. Ontologi sering
digunakan oleh para filsuf sebagai sinonim dari istilah yang digunakan oleh
Aristoteles untuk merujuk pada apa yang Aristoteles sendiri sebut ‘filsafat
pertama’. Kadang-kadang ‘ontologi’ digunakan dalam arti yang lebih luas untuk
merujuk pada studi tentang apa yang mungkin ada; metafisika kemudian digunakan
untuk penelitian dari berbagai alternatif yang mungkin ontologi sebenarnya
sejati dari realitas (Ingarden 1964). Istilah ‘ontologi’ (atau ontologia)
diciptakan pada tahun 1613 secara mandiri oleh dua filsuf, Rudolf Gockel
(Goclenius) di Philosophicumnya Lexicon dan Jacob Lorhard (Lorhardus) di
Theatrumnyaphilosophicum. Kejadian pertama dalam bahasa Inggris sebagaimana
dicatat oleh OED muncul diKamus Bailey dari tahun 1721 yang mendefinisikan
ontologi sebagai penjelasan di dalam Abstrak (Smith 2003).
Ontologi
bertujuan memberikan klasifikasi yang definitif dan lengkap dari entitas di
semua bidang. Klasifikasi harus definitif, dalam arti bahwa hal itu dapat
berfungsi sebagai jawaban atas pertanyaan seperti apa kelas entitas yang
diperlukan untuk penjelasan lengkap dan penjelasan dari semua kejadian-kejadian
di alam semesta? Apa kelas entitas yang diperlukan untuk memberikan penjelasan
mengenai apa yang membuat benar semua kebenaran? Hal ini harus menjadi lengkap,
dalam arti bahwa semua jenis entitas harus dimasukkan ke dalam klasifikasi,
termasuk juga jenis hubungan dengan entitas yang diikat bersama untuk membentuk
keutuhan yang lebih besar.
2.
Aspek ontologi
Objek telaah ontologi adalah ada. Studi tentang yang ada
pada dataran studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika.
Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks
filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu
perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada dan universal,
menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang
termuat dalam setiap kenyataan atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan
yang ada, meliputi semua realitas dalam semua bentuknya.
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi
pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, telaahnya
akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran
materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme.
Aspek ontologi dari ilmu pengetahuan tertentu hendaknya
diuraikan secara metodis (mengunakan cara ilmiah); sistematis (saling berkaitan
satu sama lain secara teratur dalam suatu keselurusan); koheren (unsur-unsurnya
harus bertautan, tidak boleh mengandung uraian yang bertentangan); rasional
(harus berdasarkan pada kaidah berikir yang benar/logis); komprehensif (melihat
objek yang tidak hanya dari satu sisi atau sudut pandang, tetapi juga secara
multidimensional atau secara keseluruhan/holistik); radikal (diuraikan sampai
akar persoalannya atau esensinya); universal (muatan kebenarannya sampai
tingkat umum yang berlaku di mana saja).
3.
Fungsi dan manfaat ontologi
Fungsi dan manfaat dalam mempelajari ontologi, yaitu
berfungsi sebagai refleksi kritis atas objek atau bidang garapan,
konsep-konsep, asumsi-asumsi, dan postulat-postulat ilmu. Di antara asumsi
dasar keilmuan antara lain pertama, dunia ini ada, dan kita dapat mengetahui
bahwa dunia ini benar ada. Kedua, dunia empiris dapat diketahui oleh manusia
dengan pancaindra. Ketiga, fenomena yang terdapat di dunia ini berhubungan satu
dengan yang lainnya secara kausal (Ansari 1987: 80 dalam buku Ihsan
2010).
Ontologi menjadi penting karena pertama, kesalahan suatu
asumsi akan melahirkan teori, metodologi keilmuan yang salah pula. Sebagai
contoh, ilmu ekonomi dikembangkan atas dasar postulat bahwa “manusia adalah
serigala bagi manusia lainnya” dan asumsi bahwa hakikat manusia adalah “homo
ekonomikus”,
makhlus
yang serakah (Sastra ratedja 1988 dalam buku Ihsan 2010). Oleh karena
itu, asumsi ini akan memengaruhi teori dan metode yang didasarkan atas
keserakahan manusia tersebut. Kedua, ontologi membantu ilmu untuk menyusun
suatu pandangan dunia yang integral, komprehensif, dan koheren. Ilmu dengan
ciri khasnya mengkaji hal-hal yang khusus untuk dikaji secara tuntas yang pada
akhirnya diharapkan dapat memperoleh gambaran tentang objek. Namun, pada
kenyataannya kadang hasil temuan ilmiah berhenti pada simpulan-simpulan yang
parsial dan terpisah-pisah.
4.
Metode ontologi
Berdasarkan
konteks filosofi, metode ontologi ini selalu digunakan di dalam adequatists
sebagai metode filsafat secara umum. Metode ini termasuk pengembangan teori
ruang lingkup yang lebih luas atau sempit dan pengujian serta penyempurnaan
dari teori-teori tersebut dengan memahami metode filsafat terhadap hasil ilmu
pengetahuan. Metode ini digunakan oleh Aristoteles sendiri.
Abad kedua
puluhontologists telah tersedia untuk pengujian akhir pengembangan teori ruang
lingkup. Ontologists saat ini memiliki pilihan kerangka formal (yang berasal
dari aljabar, kategoriteori, mereologi, topologi) dalam bentuk teori yang dapat
dirumuskan. Melalui kerangka formal tersebut, memungkinkan ahli filsafat untuk
mengekspresikan prinsip intuitif dan definisi dengan jelas dan teliti serta
melalui penerapan metode ilmu semantik formal, mereka dapat memungkinkan juga
untuk pengujian teori untuk konsistensi dan kelengkapan.
Pandangan-pandangan pokok di dalam pemahaman sebagai
berikut.
a.
Monoisme
Paham ini
merupakan paham yang menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan
itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikatnya saja
sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa materi maupun berupa rohani.
Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah
salah satunya merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan
yang lainnya. Istilah monoisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block
Universe. Paham ini kemudian terbagi ke dalam dua aliran (Edwards 1972).
1) Materialisme
Aliran ini
menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran ini
sering juga disebut dengan naturalisme. Menurutnya, zat mati merupakan
kenyataan dan satu-satunya fakta (Sunarto 1983). Materialisme sering juga
disebut naturalisme, tetapi terdapat sedikit perbedaan di antara dua paham.
Namun, materialisme dapat dianggap suatu penampakan diri dari naturalisme.
Naturalisme berpendapat bahwa alam saja yang ada, yang lainnya di luar alam
tidak ada (Louis 1996).
2) Idealisme
Sebagai
lawan materialisme adalah aliran idealisme yang dinamakan dengan spiritualisme.
Idealisme berarti serba cita, sedangkan spiritualisme berarti serba roh.
Idealisme berasal dari kata “Idea” yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran
ini beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu berasal dari
roh (sukma), yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Materi dan
zat itu hanyalah suatu jenis daripada penjelmaan rohani.
Alasan
aliran ini yang menyatakan bahwa hakikat benda adalah rohani, spirit, atau
sejenisnya adalah nilai roh lebih tinggi daripada badan, lebih tinggi nilainya
dari materi bagi kehidupan manusia. Roh itu dianggap sebagai hakikat yang
sebenarnya sehingga materi hanya badannya, bayangan, atau penjelmaan saja.
Manusia lebih dapat memahami dirinya daripada dunia luar dirinya. Materi ialah
kumpulan energi yang menempati ruang. Benda tidak ada, yang ada energi itu saja
(Bakhtiar 2010).
b. Dualisme
Setelah
kita memahami bahwa hakikat itu satu (monoisme) baik materi maupun rohani, ada
juga pandangan yang mengatakan bahwa halikat itu ada dua. Aliran ini disebut
dualisme. Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri atas dua macam hakikat
sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat rohani, benda dan roh,
jasad dan spirit, materi bukan muncul dari roh, serta roh bukan muncul dari
benda. Sama-sama hakikat dan masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama
azali dan abadi. Hubungan kedua menciptakan kehidupan dalam aliran ini.
Contohnya, tentang adanya kerja sama kedua hakikat ini yaitu dalam diri
manusia.
c.
Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segala
macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan
mengakui bahwa segenap macam bentuk ini semuanya nyata. Pluralisme dalam Dictinary
of Philosophy and Religion dikatakan sebagai paham yang menyatakan bahwa
kenyataan alam ini tersususn dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua
entitas. Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxahoras dan
Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri
atas 4 unsur yaitu tanah, air, api, dan udara (William et al. 1996).
Tokoh modern aliran ini adalah
William James (1842−1910 M). Kelahiran New York dan terkenal sebagai seorang
psikolog dan filsuf Amerika. Dalam bukunya The Meaning of Truth, James
mengemukakan tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat
tetap,yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Hal ini disebabkan
oleh pengalaman yang berjalan terus dan segala yang dianggap benar dalam
perkembangan pengamalaman itu senantiasa berubah karena dalam praktiknya apa
yang dianggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.
d. Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin
yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui
validitas alternatif yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan
Turgeniev dalam novelnya Fathers and Children yang ditulisnya pada tahun
1862 di Rusia. Dalam novel itu, Bazarov sebagai tokoh sentral mengatakan
lemahnya kutukan ketika ia menerima ide nihilisme.
Doktrin mengenai nihilisme
sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani Kuno, yaitu pada pandangan Gorgias
(360−483 SM) yang memberikan tiga proposisi tentang realitas. Pertama,
tidak ada sesuatu pun yang eksis. Pertama, tidak ada sesuatu pun yang
eksis. Realitas itu sebenarnya tidak ada. Kedua, bila sesuatu itu ada,
ia tidak dapat diketahui. Hal ini disebabkan oleh pengindraan itu tidak dapat
dipercaya, pengindraan itu sumber ilusi. Ketiga, sekalipun realitas itu
dapat kita ketahui, ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain.
Tokoh lain aliran ini adalah
Friedrich Nietzsche (1844−1900 M). Dilahirkan di Rocken di Prusia dari keluarga
pendeta. Nietzsche mengakui bahwa pada kenyataannya moral di Eropa sebagian
besar masih bersandar pada nilai-nilai kristiani. Namun, tidak dapat
dihindarkan bahwa nilai-nilai itu akan lenyap. Dengan sendirinya, manusia
modern terancam nihilisme. Dengan demikian, ia sendiri harus mengatasi bahaya
itu dengan menciptakan nilai-nilai baru, dengan transvaluasi semua nilai.
e.
Agnotisisme
Paham ini
mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda, baik hakikat
materi maupun hakikat rohani. Kata Agnosticisme berasal dari bahasa Grik
Agnostos yang berarti unknown. A artinya not, artinya know.
Timbulnya aliran ini disebabkan belum diperoleh seseorang yang mampu
menerangkan secara konkret akan adanya kenyataan yang berdiri sendiri dan dapat
dikenal.
Aliran ini
dengan tegas selalu menyangkal adanya suatu kenyataan mutlak yang bersifat trancendent.
Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya
seperti Soren Kierkegaar (1813−1855 M) yang terkenal dengan julukan sebagai
Bapak Filsafat Eksistensialisme menyatakan manusia tidak pernah hidup sebagai
suatu aku umum, tetapi sebagai aku individual yang sama sekali
unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu lain. Martin Heidegger
(1889−1976 M) seseorang filsuf Jerman mengatakan, satu-satunya yang ada itu
ialah manusia karena hanya manusialah yang dapat memahami dirinya sendiri. Jean
Paul Sartre (1905−1980 M), seorang filsuf dan sastrawan Perancis yang ateis
sangat terpengaruh dengan pikiran ateisnya mengatakan bahwa manusia selalu
menyangkal. Hakikat beradanya manusia bukan etre (ada), melainkan a etre
(akan atau sedang). Segala perbuatan manusia tanpa tujuan karena tidak ada
yang tetap (selalu disangkal). Segala sesuatu mengalami kegagalan. Das
sein (ada/ berada) dalam cakrawala gagal.
Ternyata
segala macam nilai hanya terbatas saja. Manusia tidak boleh mencari dan mengusahakan
kegagalan dan keruntuhan sebab hal ini bukanlah hal yang asli. Kegagalan dan
keruntuhan itu mewujudkan tulisan sandi (chiffre) sempurna dari “ada”.
Di dalam kegagalan dan keruntuhan itu orang mengalami “ada”, mengalami yang
transenden. Karl Jaspers (1883−1969 M) menyangkal adanya suatu kenyataan yang
transenden. Mungkin itu hanyalah manusia berusaha mengatasi dirinya sendiri
dengan membawakan dirinya yang belum sadar pada kesadaran yang sejati, namun
suatu yang mutlak (transcendent) itu tidak ada sama sekali.
Jadi,
agnostisisme adalah paham pengingkaran atau penyangkalan terhadap kemampuan
manusia mengetahui hakikat benda, baik materi maupun rohani. Aliran ini mirip
dengan skeptisisme yang berpendapat bahwa manusia diragukan kemampuannya
mengetahui hakikat. Namun, tampaknya agnotisisme lebih dari itu karena menyerah
sama sekali.
5. Ontologi
dalam struktur ilmu, posisi, dan peran penting ontologi
Sebagaimana
yang telah dipaparkan pada subbab pertama mengenai definisi dari ontologi dalam
filsafat bahwa ontologi merupakan studi atau pengkajian mengenai sifat dasar
ilmu yang menentukan arti, struktur, dan prinsip ilmu. Ontologi menempati
posisi yang penting karena ontologi menempati posisi landasan yang terdasar
dari segitiga ilmu dan teletak “undang-undang dasarnya” dunia ilmu.
Pembahasan
para ahli sebelumnya mengatakan bahwa fenomena ilmu bagaikan fenomena gunung es
di tengah lautan, sedangkan yang nampak oleh pancaindra kita hanyalah sebuah
kerucut biasa yang tidak begitu besar. Namun jika kita selami ke dalamnya, akan
nampak fenomena lain yang luar biasa di mana ternyata kerucut yang terlihat
biasa tersebut merupakan puncak dari sebuah gunung yang dasarnya jauh berada di
dalam lautan sehingga ilmu yang terlihat hanyalah permukaan (terapan) dari
sebuah dunia yang begitu luas, yaitu dunia paradigma atau dunia landasan ilmu.
Gambar 3 Bagan ilmu (ontologi merupakan dasar ilmu)
Ontologi
sebagai landasan terdasar dari ilmu adalah dunia yang jarang dikaji. Hal ini
disebabkan keberadaannya yang nyaris tak terlintas di benak sebagian besar para
pengguna ilmu. Pada lapisan ontologilah diletakkannya “undang-undang dasar”
dunia ilmu.


Komentar
Posting Komentar