Cerpen - Persinggahan Yang Aman dan Damai

Persinggahan Yang Aman dan Damai
            Tepatnya minggu kemarin pas di hari Kamis pula , saya dikerjar sama bapak – bapak yang memiliki perawakan dan stylenya mirip kayak tentara badannya besar sama tegap lalu memakai celana berbahan kaku mirip celana PDL memakai baju dibarengi jaket dengan corak tentara . Kalau lihat mukanya kelihatannya garang dan sangar .
            Kronologis ceritanya begini , diawali ketika saya berada dan main di rumah teman saya di daerah Monumen Perjuangan Dipatiukur kemudian saya pamit untuk pulang ke rumah karena urusan saya datang ke rumahnya sudah beres , waktu itu pas sekali dengan keadaan beres maghrib itu  gelap diluaran . Langsung saja saya berangkat karena saya mau ke rumah terlebih dahulu terus saya mempunyai janji memberi desain kaos jam 9 malam untuk bertamu ke teman saya yang di daerah Cilengkrang . Ketika beres maghrib saya tancap gas motor di jalan  , pas di jalanan menuju rumah saya itu keadaanya macet tentunya saya pusing cari – cari jalan alternatif agar lebih cepat ke rumah pada saat itu . Saya ke rumah itu memiliki alasan karena ketika itu saya lapar dan belum makan dari siang jadi perut keroncongan .
            Ketika di jalan alternatif itu atau jalan motong bisa dikatakanlah . Kondisi  pada saat itu saya buru – buru diperparah keadaan motor saya yang rem belakangnya blong sama rem depannya kurang berjalan maksimal , saya lewat jalan Cikutra pada saat itu yang bisa jalan motong menuju rumah saya di Antapani . Kemudian saat di jalan Cikutra itu kurang penerangan jalan ditambah banyak pengguna jalan yang lalu lalang serta banyak para pedagang malam seperti tukang nasi goreng , bubur ayam , mie ayam , susu murni tentunya para pedagang itu membuat saya tidak konsentrasi karena perut saya keroncongan jadi kurang fokus melihat jalanan . Tadinya mau menepi dulu di warung mie ayam namun saya teringat janji saya bahwa jam 9 malam harus on-time sampai di Cilengkrang .
            Suatu ketika saya dengan rusuhnya di jalanan Cikutra dibarengi perut yang lapar ini di depan saya ada motor Vixion yang ingin menyebrang ke sebrang jalan . Entah mengapa begitu si bapak – bapak tentara itu mendadak menyalakan lampu sennya ke kanan sontak saya yang dengan kecepatan tinggi dari jalur yang sama dengan si bapaknya kaget ditambah kurang fokus karena lapar tadi . Pas saya ingin mengerem tentunya tidak bisa karena kedua remnya kurang baik .  Dengan skil mengendarai motor yang saya miliki saya bablas saja mengambil lajur kanan dan ternyata motor saya kesenggol sedikit oleh motor si bapak  tepatnya dibagian ban belakang , hasilnya ketika tabrakan itu saya hampir jatuh dan bagian motor spakbor depan si bapak tentara itu kurang lebih patah .
            Tadinya saya mau menepi dan meminta maaf ke si bapak tentara itu , namun saya teringat janji ditambah saya lapar mesti kerumah terlebih dahulu . Kemudian saya berfikir kalau saya turun dari motor saya dan meminta maaf tentunya masalah menjadi rumit belum lagi diperparah ganti rugi sebagainya . Jika benar ganti rugi pas saai itu keadaannya juga saya tidak punya uang sepeser pun untuk ganti rugi spakbor motornya . Tanpa befikir panjang langsung saja saya tancap gas lagi kabur dengan kecepatan tinggi walaupun ban belakang dan rantai motor saya ada sedikit kendala , saya tidak mempedulikan si bapak – bapak tentara tadi yang menghalangi jalan saya dengan seenaknya menyalakan lampu sen mendakak .
            Ketika kabur dari peristiwa itu saya panik , kemudian saya heran kenapa ada yang yang membuntuti saya dari belakang dan percis suara knalpotnya itu mirip motor Vixion kemudian saya  menengok kebelakang sejenak , dan ternyata yang dibelakang itu si bapak – bapak tentara tadi yang nabrak saya kelihatannya dia marah , saat itu saya di depan walaupun rantai kayaknya maupun putus akibat di tabrak motor si bapak . Entah kenapa ide dalam benak pikiran saya untuk kabur ini seperti lancar dan encer. Sesudah kepikiran saya punya trik untuk mengelabui si bapak – bapak tentara yang mengejar saya itu . Saya melakukan trik itu dengan menepi dan berhenti di pinggiran jalan yang pas di depan gang warga setempat , lalu saya berhenti sontak si bapak tentara pun berhenti dan menyeru saya untuk turun dia berkata : “ Hei , kamu turun dulu  ” dengan nada marah . Ketika dia turun dari motornya dan mau menghampiri saya .
            Sesuai dengan strategi yang ada di benak saya . Saya dengan cerdiknya seperti si kancil langsung tancap gas kembali kabur lewat gang – gang kecil warga setempat . Dalam hal pengetahuan gang saya kurang paham dan tidak tahu sama sekali gang itu keluarnya kemana yang terpenting insting dan naluri yang saya miliki untuk kabur dari si bapak tentara tadi . Walaupun dia masih mengejar , saya mempunyai strategi lagi untuk masuk dan bersembunyi ke rumah warga dan menyamar sebagai tamu yang salah alamat .
Saat di gang perasaan saya panik takut dia juga mengejar saya sampai ke gang , gang ke gang saya lewati dengan insting dan naluri yang terpenting arahnya ke timur yaitu ke daerah jalan Jenderal A.Yani , sempat saya memasuki gang buntu lalu putar arah kembali walaupun sempit langsung geser cepat arah motor saya . Setelah sampai dan melewati beberapa gang yang dilewati  syukur alhamdulilah hasilnya si bapaknya tidak mengejar saya . Dan saya bisa pulang sesuai dengan rencana yang saya rencanakan sebelumnya , intinya saya tidak harus ditagih ganti rugi itu saja karena ketika itu saya tidak pegang uang sepeser pun .

Ketika lolos dari hal itu saya menemukan sebuah masjid yang agak sepi karena sudah ditinggalkan jamaahnya , saya kemudian bergegas melaksanakan sholat Isya . Ku parkirkan motorku , dan mulai basahi diriku dengan sucinya air wudhu  . Di masjid itu aku tunaikan ibadahku dengan khidmat sekali yang tak pernah kualami sebelumnya akan kekhusuyuk-an yang begitu nikmatnya dan ku ratapi peristiwa yang tadi menyenggol bapak tentara tadi . Dan kali ini saya merasa bersalah akan kesalahan yang pernah ku buat . Dan disinilah terasa hening disertai angin semilir yang berhembus menembus relung hatiku seakan adanya ketenangan dan kedamaian yang menyertaiku dan  merasa ada kedamaian yang lebih saat berdzikir kali ini berbeda tidak seperti biasanya aku mengingatmu sang Pencipta .

Penulis : Aji Gunawan , Mahasiswa KPI semester 3 , UIN SGD Bandung

Komentar

Postingan Populer