Feature - Rajut Jalinan Persatuan dengan Komedi
Feature
Nama : Aji Gunawan
Kelas : KPI-A
NIM : 1164020014
Semester : 3
Mata Kuliah : Pengantar Ilmu Jurnalistik
Kelas : KPI-A
NIM : 1164020014
Semester : 3
Mata Kuliah : Pengantar Ilmu Jurnalistik
Rajut Jalinan Persatuan dengan Komedi
Perjalanan
komedi dari tiap zaman ke zaman seiring berubah mengikuti arus zaman dan
mencari titik perkembangannya pada situasi saat ini . Bagaimana komedi yang
disuguhkan ketika tradisional dahulu di nusantara ini banyak biasanya digelar
di dalam pentas rakyat atau gedung kesenian lalu mengadopsi penisbahan dan
diawali dari tokoh – tokoh pewayangan seperti kita kenali sampai saat kini
seperti Semar , Petruk , Gareng , hingga tokoh wayang golek Sunda yang
mentereng yaitu si Cepot dan kondisi itu yang ada pada situasi tersebut relevan
dan telah terjadi ketika itu .Dari peranan komedi sebelumnya diobjekan lewat
seni pewayangan namun kini peranan itu telah berubah dan melabrak batas – batas
atau pakem- pakem yang dahulu dirancang sedemikian rupa seakan – akan nafas
komedi zaman ini menjadi bentuk kontemporer dan merumuskan bentuknya tersendiri
dengan ciri khasnya masing – masing dan setiap orang bebas dalam mengungkapkan
dan bereksperesi dalam curahan komedi .
Komedi
pada zaman ini merupakan suatu bentuk bahasa universal yang disajikan
sedemikian rupa untuk menyajikan pertunjukkan yang interaktif dan menghibur ,
terlebih pada era milenial saat ini yang menembus batasan usia , suku , agama ,
ras , maupun kelas sosial dan kedudukan sekalipun laki – laki atau perempuan
terbuai oleh gelak tawa yang disajikan para komedian dalam melakukan aksinya
dalam suatu pentas pertunjukkan . Belum lagi dalam konteks zaman serba digital
ini banyak varian yang menyuguhkan pertunjukkan komedi yang alternatif dan beda
dari sebelumnya . Melihat sajian komedi yang telah dilakukan di Aula Abdjan Soelaeman (Aula Lama) oleh Himpunan
Mahasiswa Jurusan (HMJ) Bimbingan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah dan
Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung pada Senin , 18
Desember 2017 menyuguhkan alternatif komedi itu dengan penampilan komedi yang
dilakukan dengan penyampaian komunikasi yang monolog dari si komediannya pada
penontonnya sesering kali ada terjalin komunikasi dialog yang terbangun antara
keduanya atau sering biasa disebut nama populernya yakni Stand Up Comedy
"Berjuta
Cerita Berjuta Cinta Menuju Satu Cita " merupak headline tema yang
telah diselenggarakan ketika itu jelas esensinya yakni pemaknaan akan kesatuan
dalam persatuan . Sangat dirasa pas merujuk perbedaan dan karakter mahasiswa
dari berbagai pelosok negeri ini disatukan dalam suatu naungan lembaga yakni
jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) dan untuk melebur itu semua instrumen
komedilah sebagai pemersatu dari keberagaman tersebut . Terlebih beberapa orang
turut tertawa ketika sang Stand Up Comedian atau sering disebut komika .
Tentunya pemerhatian dan perumusan premis – premis yang jenaka bagi komika itu perlu
dilatih dan saat penampilannya itu menyeting bagaimana ketika mengeluarkan
teknik – teknik stand up comedynya seperti bit – bitnya yang menggelegar
disertai punch line itu mengena tersampaikan dengan pas oleh segenap
audien saat itu terpukau maka penampilannya itu patut diapresiasi yang
disebutnya Kill . Namun berbanding terbalik jika ketika gagal membuat audien
tertawa alias garing itu disebut dengan nge-Bomb . Maka penampilan kemarin yang
disuguhkan sungguh menghibur secara bintang tamu pun mereka memiliki jam
terbang yang mempuni dan memiliki reputasi dalam kancah dunia Stand Up
Comedy di Indonesia .
Unsur
yang ada ketika itu benar – benar dikendalikan oleh memukaunya peranan komedi
dan semua mata tertuju pada podium dimana sang komika melakukan aksinya seperti
sekat batas antar antara mahasiswa yang semester atas maupun bawah atau
berapapun berbaur dalam gelak tawa dan bahkan ada yang terpingkal melihat
menyampaikan yang lugas dan jenaka dari seorang komika dari setiap sesi
penampilannya , diawali dengan komika kampus hinga komika sekelas Bintang Emon
dan Arafah Rianti .
Persiapan
yang telah matang sebelumnya jauh hari – hari dari HMJ BKI untuk melandingkan
kegiatan ini karena dengan komedi ini sebagai tolak ukur persatuan dari
serangkaian acara Milad BKI yang ke – 24 tahun . Jelas dalam usia yang ke – 24
tahun itu merupakan fase dimana proses pendewasaan diri dan jatidiri pun mesti
tumbuh dan terbentuk terlebih dari proses saling menghargai terlepas dari
beberapa unsur yang tergabung dalam BKI melebur dalam kesatuan naungan BKI itu
sendiri .
Ibarat
tontonan rakyat zaman tradisional yang telah diungkap diatas peralihan komedi
masa kini berubah dalam konteks penyampaiannya tanpa menghilangkan hakikat
komedi dalamnya yakni kelucuan , kegokilan , kejenakaan dan kehangatan dari
komedian dan audien atau penonton . Merupakan tonton rakyat pula namun dikemas
dalam bentuk kekinian yang variatif dan senantiasa fleksibel dengan perubahan
zaman .
Penulis : Aji Gunawan
, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Komunikasi & Penyiaran
Islam , UIN Sunan Gunung Djati Bandung .



Komentar
Posting Komentar